Dibuka atau Ditutup (?)

​Saya tumbuh besar dengan film-film mendiang ratu horor Indonesia: Suzana. Film yang sudah diputar berulang, namun saya selalu penasaran untuk menonton. Sepanjang film saya akan melakukan hal yang sama: menutup muka dan sesekali menutup telinga. Di era 90an, saya juga tidak pernah melewatkan sinetron Si Manis Jembatan Ancol, walaupun setelah itu saya tidak berani ke kamar mandi sendiri. Saya menjadi sangat penakut.

Setan selalu menjadi senjata untuk menakuti anak kecil. Bahkan eyang kakung saya selalu menggunakan nama setan untuk melarang kami main ke sungai. Mungkin karena lebih efektif berkata:

“Jangan main-main ke sungai, nanti ada Onggo Inggi (salah satu nama setan)”

Daripada

“Jangan main-main ke sungai, bahaya jika tenggelam”

Sampai suatu hari saya sadar, saya harus menghentikan kebiasaan menonton horor agar saya tidak berhalusinasi. Sejak SMA, saya tidak lagi menonton film-film horor, acara semacam dunia lain, pun membaca buku-buku seram. Sejak itu pula, saya berani ke kamar mandi sendiri malam-malam, saya berani keliling sekolahan saat jadi panitia perkemahan pramuka dan saya berani tidur dengan lampu dimatikan. Namun bukan berarti saya menjadi pemberani, jauh di lubuk hati yang paling dalam  saya tetap takut. Setidaknya, saya bisa sedikit melawan rasa takut dengan cara menutup telinga dan mata dari cerita-cerita horor.

Suatu hari, salah satu Om berkata kepada saya:

“Dulu, pernah ada salah satu teman Om yang bilang bahwa kamu itu ‘beda’.”
Beda?

Saya tidak tahu konsep beda yang disampaikan oleh Om saya. Bahkan, om saya menawarkan untuk membuka ‘mata’ yang lain agar saya bisa melihat dunia lain.

What?

Ini halu apa gimana?

Setelah hampir 23 tahun dan saya dibilang ‘beda’ lalu ditawari untuk membuka ‘mata’ yang lain. Tentu saja saya langsung menolak dengan lantang: NO!

Lalu om saya bertanya: kamu pernah mengalami kejadian aneh namun tidak pernah cerita?

Sering. Bagaimana saya melihat kakek-kakek yang tiba-tiba di samping saya saat saya wudhu. Atau mendengar perempuan menangis malam-malam di pohon samping kamar yang ada di lantai dua. Lotion yang dilempar ketika saya membantu tante pindahan ke rumah baru, beberapa foto yang tidak ingin saya lihat karena memang tidak ingin (konon jika begitu, di foto itu ada ‘sesuatu’), pundak yang berat ketika saya mengerjakan tugas sampai larut yang ternyata ada ‘anak kecil’ yang suka sama saya, sapaan-sapaan tak terliahat ketika saya berada di tempat baru (entah hotel/villa penginapan saat liburan) atau pusing hebat ketika saya di depan gerbang lawang sewu. 

Saya tidak pernah cerita ke khalayak karena 50% orang akan mengira saya halusinasi dan mengada-ada. Tidak semua orang bisa percaya dengan apa yang saya alami. Saya biasa cerita kepada sahabat/keluarga yang bisa saya percaya.

Jika memang benar saya ada ‘bakat’ untuk bisa merasakan hal-hal gaib, saya tidak pernah merasa bangga. Kalau bisa, bukan ‘dibuka’, namun ‘ditutup’. Tidak semua kuat dengan kelebihan yang mereka miliki. Termasuk saya.
Saya ingin tetap menjadi penakut yang berusaha melawan dengan kata-kata: Kalau kita ga ganggu mereka, insyaallah mereka tidak akan mengganggu kehidupan kita.

Paling-paling ngajak kenalan dikit. HIY!

Postingan lain dengan tema ‘seram’ dari group wonderful blogger:

Advertisements

11 thoughts on “Dibuka atau Ditutup (?)

  1. Justiiiii kamu ternyata “sensitiiiif” ya, aku ga yg sensitif gt tapi kl ada hawa ga enak suka ngerasa jg suka hiiiyyy. Untung ditolak yaaa buka mata ketiganyaaa

    Anway, penulisan dan tata bahasanya bagus banget! 👏🏻👏🏻

  2. Haduuuu… aku bersyukur ga punya bakat melihat dunia ghaib ini. Justi, keputusanmu tepat! Melihat dunia yang kasat mata aja udah ruwet, buat apa ditambahi dengan melihat dunia lain ya? 🙈🙈🙈

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s