Uncategorized

Hujan dan Meja Makan

Kerinduan kepada ibu memuncak ketika hujan. Tak hanya kepada wanita yang sekarang rambutnya mulai memutih, namun juga kejutan-kejutan yang selalu ada di meja makan. Bubur sumsum wangi pandan, bubur ketan hitam kuah santan, donat kentang pun sekadar gorengan hangat teman minum teh dan coklat hangat.

Aku suka ketika hujan. Saat kami berkumpul di meja makan. Ayah dengan kopi susu, kakak dengan milo hangat, ibu dengan teh lemon tanpa gula dan aku dengan coklat panas racikan ibu. Kami berbincang tentang apa saja di sela rintik yang berisik. Becandaan ayah yang garing namun kasihan jika tidak ditertawakan, cerita kakak tentang film yang baru saja ditontonnya, ibu yang bercerita tentang telenovela dan aku yang menyimak sambil sesekali mengunyah makanan di meja.

Ibu selalu tahu bagaimana mencuri hati kami saat hujan. Beliau tahu bagaimana mengumpulkan kami dengan mudah tanpa perlawanan. Ibu selalu tahu apa yang kami mau, lewat tangan ajaibnya mencipta sesuatu. Hujan dan meja makan adalah salah satu alasan kenapa aku ingin sekali pulang.

Hujan sudah berhari-hari tidak berhenti. Yang tentu saja menyiksaku dengan perasaan rindu. Aku memandangi langit-langit kamar kost yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari rumah. Coklat hangat ala minimarket seharga lima belas ribu tak lebih enak dari coklat racikan ibu. Aku penasaran, apakah di rumah hujan?

Ibu sedang masak apa?

Ayah sedang bercerita apa?

Yang pasti meja makan itu sepi. Semenjak kakak menikah dan tinggal bersama suaminya dan aku yang masih berkutat dengan buku semester lima. 

Sore itu aku membayangkan bubur ketan hitam kuah santan. Menu paling favorite di antara semua kudapan yang tersaji di meja makan. Saat-saat seperti ini aku ingin meminjam pintu kemana saja milik doraemon untuk pulang ke rumah. Tapi itu cuma mimpi. 

(Tok tok tok)

Seseorang mengetuk pintu kamar. Aku beranjak dengan malas, paling-paling tetangga samping minta air panas. 

“Mas, ini ibu bikin makanan, enak dimakan hujan-hujan”

Ternyata ibu kost. Beliau membawa semangkuk bubur ketan hitam kuah santan kental yang tampak masih panas. Mataku terbelalak seperti melihat harta karun yang telah lama hilang. Hatiku menghangat, kerinduan kepada ibu semakin memuncak. Barangkali memang benar kata ibu, berdoalah saat hujan, karena doa-doa akan dikabulkan. 

Atau jangan-jangan, ini doa ibu dari kejauhan?

Advertisements

3 thoughts on “Hujan dan Meja Makan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s