Uncategorized

Di Beranda

Kita pernah memimpikan sebuah rumah dengan dua beranda di hari tua. Satu beranda menghadap ke timur-sehingga kita bisa melihat matahari terbit sembari minum teh hangat, dan satunya lagi menghadap ke barat-sehingga senja bisa kita nikmati berdua. Rumah yang jauh dari keramaian kota, dikelilingi taman dan kebun sayur. Kita menua dengan tenang dan barangkali sambil menuai rindu kepada anak-anak kita.

Oh ibu,

tenang sudah. Lekas seka air matamu. Sembabmu malu dilihat tetangga

Beberapa tahun yang akan datang, suka maupun tidak suka, kita akan melewati ini. Anak kecil yang kita timang cepat sekali tumbuh tinggi dengan pemikiran-pemikiran yang mencuat berkembang pesat. Dia memutuskan untuk mencari apa yang dia ingin cari. Memuaskan keingintahuan yang tidak ia dapat dari jawaban kita atas pertanyaannya.

Sesekali aku pasti menitikkan air mata jika merindukannya. Dan kamu akan selalu menguatkan dengan berkata bahwa anak itu sebenarnya bukan milik kita, kita hanya perantara. Ada saatnya tugas kita selesai mengantarkan dia untuk melangkah ke fase berikutnya.

Oh ayah mengertilah..

Rindu ini tak terbelenggu. Laraku setiap teringat peluknya

Tapi menjadi ibu tidak semudah itu. Tubuh kami pernah menjadi satu, itulah mungkin tidak mudah aku melepaskan peluknya. Rindupun tak sekadar rindu, ada kecemasan tentang kesehatannya juga ketakutan tentang keselamatannya. Otak ini semacam tidak bisa tenang memikirkan tentangnya. 

Hanya saja aku tidak bisa menahannya pergi. Terlalu egois jika aku mementingkan hidupku sendiri. Dia juga berhak memilih atas hidupnya. Tidak terkurung dalam kotak-kotak yang diciptakan oleh kita, orang tuanya sendiri.

Kini kamarnya teratur rapi

Ribut suaranya tak ada lagi

Tak usah, kau cari dia tiap pagi..

Aku akan sadar aku salah, ketika tiap hari marah-marah dengan kondisi kamarnya yang berantakan parah. Ketika kamar itu tidak berpenghuni akan terasa sepi walau rapi. Tidak ada teriakan berulang setiap pagi membangunkannya sembahyang. 

Hanya ada ruangan kosong nan gelap tanpa aroma baju kotor yang tergantung di balik pintu. Tidak ada yang merengek meminta nasi goreng malam-malam saat aku ingin beristirahat. Tanpanya, rumah ini tidak lebih baik dari biasanya.

Dan jika suatu saat

Buah hatiku, buah hatimu

Untuk sementara waktu pergi..

Usahlah kau pertanyakan kemana kakinya kan melangkah

Kita berdua tahu, dia pasti

Pulang ke rumah

Memang seharusnya tidak usah dirisaukan apa yang akan terjadi. Tugas kita sekarang hanyalah mendoakan keselamatan setiap langkahnya serta kekuatan hatinya menghadapi dunia. Anak-anak akan tumbuh dewasa dengan jalannya sendiri. Kita akan menua dengan perasaan bangga dengan apa yang telah diraihnya. 

Mungkin kamu akan terus menerus mengingatkanku untuk tetap tenang, duduk di beranda, minum teh tanpa memikirkan macam-macam. Barangkali tidak cuma kita yang rindu, dia pun akan merasakan hal yang sama. Dia akan pulang entah kala senja ataupun pagi buta. Dan kita akan menyambutnya dengan gembira..di beranda.
.
.
Ps. 

Tulisan ini menceritakan sebuah lagu dari Banda Neira yang berjudul “di Beranda” yang mana Banda neira memutuskan bubar di bulan penghujung tahun ini . Barangkali memang tidak ada yang abadi, namun setidaknya ada lagu lagu manis yang diputar ulang, untuk mengenang.

.

Lagu bisa didengarkan di sini: 

https://m.youtube.com/results?q=di%20beranda&sm=3

Advertisements

10 thoughts on “Di Beranda”

  1. Duh 😦

    Aku mulai memasuki fase itu. Atau setidaknya satu dua tahun lagi. Melepas anak-anak pergi dari rumah itu rasanya memang…. *menghela napas panjang*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s